1 Mei 2013


Titik Beku
(Penurunan Titik Beku)
I.            Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini diharapkan:
1.      Dapat menentukan harga Kb suatu pelarut
2.      Dapat menghitung berat molekul suatu zat yang tidak mudah menguap dengan metode titik beku

II.            Alat dan Bahan yang Digunakan
-          Alat yang Digunakan
1.      Refregerator Circulating Batch (termostat, pendingin)           1 buah
2.      Termometer 100oC dan 200 oC                                          2 buah
3.      Pengaduk                                                                            2 buah
4.      Pipet ukur 25 ml                                                                  1 buah
5.      Spatula                                                                                2 buah
6.      Erlenmeyer                                                                          1 buah
7.      Kaca Arloji                                                                          2 buah
8.      Bak/wadah alat (untuk batu es)                                             2 buah
9.      Botol aquadest                                                                     1 buah

-          Bahan yang Digunakan
1.      Pelarut berupa Asam Anhidrat
2.      Larutan standar naftalena
3.      Zat X yang dicari berat molekulnya
4.      Garam dapur
5.      Batu Es

III.            Dasar Teori
Bila suatu zat yang sukar menguap, dilarutkan dalam zat pelarut akan terjadi suatu peristiwa penurunan tekanan uap.  Akhirnya pada suhu tertentu tekanan uap zat pelarut dalam larutan akan selalu lebih rendah dari keadaan murninya. Besarnya tekanan uap ini akan terkandung dari banyaknya zat yang dilarutkan. Perubahan tekanan mengakibatkan adanya gangguan kesetimbangan dinamis dari larutan.












 
                P1                                                P2

                                                                                        
            Murni                                         Larutan
P1 = Tekanan uap murni
            P2 = Tekanan uap sesudah diberi zat terlarut
Semakin besar penambahan mol zat terlarut makin banyak penurunan tekanan uap. Untuk larutan yang sangat encer maka tekanan uap at terlarut dapat diabaikan.
Menurut Hukum Roult:
            P  = X1. Po
            X1= P/Po
Dimana:
P   = Tekanan uap larutan
Po = Tekanan uap murni
X1 = Mol fraksi zat pelarut/ mol fraksi zitas padatan murni = 1, maka persamaan diatas dapat disederhanakan terlarut.
Dari persamaan diatas dapat ditarik ln, sehingga persamaan menjadi:
          ln P/Po = ln X1
                X1 + X2 = 1 à X1 = 1 – X2
             ln P/Po = ln (1 – X2)

Menurut Hukum Clausius Clapeyron:
          ln P/Po =     Hf/ R (1/To – 1/T)
Dimana:
          To = tb murni
          T   = tb larutan
   Ln P     =           Hf/ R (T-To)        =      Hf .   Tb
     Po                       RToT                       RToT
Karena To dan T hampir sama ToT – To2
   Ln P    =            Hf .   Tb
     Po                    RTo2
Menurut Persamaan Roult maka ln P/Po = ln (1 – X2). Sehingga terjadi persamaan dibawah ini:
            ln (1 – X2) =      Hf .    Tb/RTo2
Untuk larutan yang sangat encer maka ln (1 – X2) = X2
            X2        =     Hf     Tb
                                 RTo2
              Tb      =  RTo2  X2
                                    Hf

               Tb     = R To2 G2/M2
                              Hf G1/G2
               Tb     = RTo2 . M1. 1000. G2
                              1000. Hf. M2. G1

                                = Kb. 1000. G2
                                M2. G1
            M2       = 1000. Kb. G2
                                Tb. G1
Dimana:
              G1  = Berat pelarut
              G2  = Berat zat terlarut
               Tb  = Penurunan Titik Beku
Kb = Penurunan titik beku molal yaitu merupakan sifat khusus pelarut menujukkan penurunan titik beku apabila 1 mol zat terlarut dilarutkan dalam 1000 gram pelarut.
IV.            Dasar Teori Tambahan
Penurunan titik beku larutan mendiskripsikan bahwa titik beku suatu pelarut murni akan mengalami penurunan jika kita menambahkan zat terlarut didalamnya. Sebagai contoh air murni membeku pada suhu 0 C akan tetapi jika kita melarutkan contoh sirup atau gula didalamnya maka titik bekunya akan menjadi dibawah 0 C. Sebagai contoh larutan garam 10% NaCl akan memiliki titik beku -6 C dan 20% NaCl akan memiliki titik beku -16 C.

Fenomena penurunan titik beku larutan sangat menarik perhatian para ilmuwan karena hal ini bersinggungan langsung dengan kehidupan manusia contohnya, penggunaan etilen glikol sebagai agen “antibeku” yang dipakai di radiator mobil sehingga air ini tidak beku saat dipakai dimusim dingin. beberapa ikan didaerah artik mampu melepaskan sejumlah senyawa untuk menghindari darahnya beku, atau dengan menggunakan teknik penurunan titik beku kita dapat menentukan massa molar atau menentukan derajat disosiasi suatu zat.

Penurunan titik beku larutan adalah salah satu sifat koligatif larutan. Untuk mengukur besarnya titik beku larutan kita membutuhkan dua hal berikut:
  1. Konsentrasi molal suatu larutan dalam molalitas.
  2. Konstanta penurunan titik beku pelarut atau Kf.
Di bidang themodinamika konstanta titik beku pelarut, Kf lebih dikenal dengan istilah “Konstanta Krioskopik“. Krioskopik berasal dari bahasa Yunani yang artinya “mengukur titik beku”.
Faktor Van’t Hoff (i) adalah parameter untuk mengukur seberapa besar zat terlarut berpengaruh terhadap sifat koligatif (penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan osmotik).
Naftalen juga dikenal sebagai nafthalin, tar kapur, tar putih, albokarbon, atau nafthene. Naftalen mudah menguap dan mudah terbakar. Naftalen merupakan hidrokarbon padat berwarna putih, yang diperoleh dari penyulingan fraksional batu bara. Sebagian besar naftalen yang diproduksi digunakan sebagai bahan baku pembuatan resin alkil untuk pembuatan plastik. Sebagian kecil untuk zat warna dan bahan kimia lain. Penggunaan langsung adalah sebagai pengusir ngengat.
Larutan mempunyai sifat-sifat yang berbeda dari pelarutnya. Salah satu sifat penting dari suatu larutan adalah penurunan titik beku. Titik beku adalah temperatur tetap dimana suatu zat tepat mengalami perubahan wujud dari cair ke padat. Setiap zat yang mengalami pembekuan memiliki tekanan 1 atm. Penambahan zat terlarut nonvolatil ke dalam suatu pelarut menyebabkan terjadinya penurunan titik beku. Keberadaan partikel-partikel zat pelarut mengalami proses pengaturan molekul-molekul dalam pembentukan susunan kristal padat, sehingga diperlukan suhu yang lebih rendah untuk mencapai susunan kristal padat dari fasa cairnya.
Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya penurunan titik beku suatu larutan yang keadaannya ditambahkan zat terlarut.
Percobaan penentuan titik beku larutan dilakukan untuk menentukan harga tetapan penurunan titik beku (Kf) suatu pelarut murni dam menentukan berat molekul zat X. Asam cuka glasial yang digunakan sebagai pelarut murni akan membeku dan zat terlarut seperti naftalen dan zat X tidak akan membeku ketika larutan tersebut mengalami pembekuan.
Garam berfungsi sebagai penurun titik beku air, air yang awalnya berupa es akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan titik beku air murni. Fungsi garam bukan agar air tetap menjadi es, tetapi es akan mencair namun suhu yang dimiliki lebih rendah.
Naftalen adalah zat non volatil yang berfungsi menurunkan energi bebas dari pelarut sehingga kemampuan pelarut untuk berubah menjadi fase uapnya akan menurun pula, oleh karena itu tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah bila dibandingkan dengan tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni. Penurunan tekanan uap sebanding dengan penurunan titik beku. Jadi jika tekanan uapnya turun maka perubahan titik beku juga akan turun, begitu pun sebaliknya. Titik beku mengalami penurunan setelah ditambahkan naftalen.
Semakin tinggi kemolalan urea, semakin rendah titik bekunya. Semakin tinggi kemolalan larutan urea maka semakin besar perbedaan penurunan titik beku karena kemolalan sebanding dengan penurunan titik beku. Penambahan garam dalam es batu akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi yang mengakibatkan semakin rendah titik bekunya. Makin besar molalitas larutan, makin tinggi penurunan titik beku larutan.
             Penurunan titik beku larutan (Tf) berbanding lurus dengan molalitas larutan. Titik beku pelarut murni lebih tinggi daripada titik beku larutan. Titik beku larutan elektrolit lebih rendah daripada larutan non elektrolit pada kemolalan yang sama. Semakin kecil konsentrasi larutan, jarak antarion semakin besar dan ion – ion semakin bebas. Semakin tinggi kemolalan maka semakin rendah titik bekunya. Semakin tinggi kemolalan maka semakin besar perbedaan penurunan titik beku.

V.            Keselamatan Kerja
Untuk menjaga keselamatan dalam melakukan percobaan ini gunakan jas lab, sarung tangan karet, masker dan kacamata.

VI.            Cara Kerja
1.      Menentukan berat  jenis asam asetat glasial dengan menggunakan piknometer atau aerometer.
2.      Mengambil 50 ml pelarut dimasukkan dalam alat sambil didinginkan, mencatat suhunya untuk setiap 30 detik, hingga suhu konstan, kemudian melihat sudah membeku atau belum.
3.      Mencairkan pelarut kembali, kemudian menambahkan zat yang sudah diketahui berat molekulnya (naftalena 2 gram). Mendinginkan lagi dan mencatat suhunya setiap 30 detik hingga suhu tetap sampai membeku.
4.      Mencatat selisih titik beku percobaan 2 dan 3.
5.      Mengulangi percobaan 2 dan 3 dengan mengambil zat terlarut yang akan dicari berat molekulnya (Zat X).







VII.            Data Pengamatan

Asam anhidrat
T
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

T
24
19
16
13
12
9
6
6
5
5
4
3
3
3
3
3
3

T
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

T
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
Naftalena
T
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

T
30
30
22
18
15
13
10
10
8
7
6
5
4
4
4
4
4

t
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

T
4
4
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
1
1
1
1
Zat (x)
t
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

T
38
30
24
17
15
15
14
12
11
10
10
8
8
8
8
6
5

t
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34

T
4
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1


VIII.            Perhitungan
A.    Mencari nilai Kb suatu pelarut
-          T2 = 10C, T1 = 30C
-             Tb = T1 – T2
     = 30C – 10C
   = 20C
-          Gr = ρ x v = 1,08 gr/l x 0.05 l = 0,054 gr
-          m Naftalena =  x  =  x  = 362,7920 mol/gr
-                      Tb = m x Kb
Kb =        Tb      =           20C               =  0,0055128 gr 0C/mol
                     M             362,7920 mol/g           
B. Menghitung BM zat yang tidak diketahui
-          T2 = 10C, T1 = 30C
-             Tb = T1 – T2
            = 30C – 10C
        = 20C
-           Tb  = Gr   x    1000 gr      x Kb
           Bm           P

  Bm  = kb x gr x 1000 =     0,0055128 gr0C/mol x 2 gr x 1000  
                    Tb x P                          20C x 0,054 gr
 X   = 102,0888 gr/mol (praktek)  
-          Nilai X secara teori = 126, 07 gr/mol
-          % Kesalahan = Teori – Praktek     x 100%
Praktek
                                       = 126,07 gr/mol – 102,0888 gr/mol    x 100%
                                                            126,07 gr/mol
                                      = 19,07 %
IX.            Pertanyaan
1.      Apa yang dimaksud dengan titik beku suatu zat?
Titik beku suatu zat adalah suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap padatannya.

2.      Apa yang dimaksud penurunan titik beku molal?
Penurunan titik beku adalah suatu sifat khusus pelarut berupa suatu ketetapan yang menunjukkan penurunan apabila 1 mol zat terlarut dilarutkan dalam 1000 gram pelarut.

3.      Apa yang menyebabkan turunnya tekanan uap pada pemberian zat terlarut?
Yang menyebabkan turunnya tekanan uap pada pemberian zat terlarut yakni karena pemberian zat terlarut menyebabkan gaya tarik-menarik antara partikel-partikel semakin kuat. Larutan menjadi jenuh dan menyebabkan larutan tersebut sukar menguap sehingga terjadi penurunan tekanan uap.

X.            Analisa Percobaan
Pada percobaan yang berjudul penurunan titik beku dapat di analisa bahwa pencampuran antara pelarut atau (anhidrat) dengan zat pelarut (naftalena) menyebabkan penurunan titik beku. Pencampuran menggunakan naftalena yang merupakan hidrokarbon kristalin aromatic berbentuk padatan bewarna putih dengan rumus molekul (C10H8) .
Pada saat pelarut ditambahkan dengan zat padat tersebut menghasilkan larutan yang mengalami kesetimbangan terhadap zat padat tersebut . Dalam menentukan kb suatu pelarut di mulai dengan mengetahui selisih antara titik didih  zat pelarut konstan dan zat larutan konstan yang di dapat. Berdasarkan praktek suhu pelarut konstan yaitu 3oC dan suhu naftalena 1 oC dan selisih yang di dapat 2 oC.
Titik beku larutan lebih rendah di bandingkan titik beku pelarut murninya. Peristiwa ini dikarenakan zat pelarut membeku lebih dulu dari zat terlarutnya . Dalam hal ini titik beku naftalena dan zat x lebih rendah dari asam anhidrat Karena saat di campurkan ke dalam anhidrat , titik beku anhidrat berubah menjadi lebih rendah . Hal ini di akibatkan oleh masukknya suatu zat terlarut maka cairan tidak murni lagi sehingga titik beku berubah.


XI.            Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah di lakukan , dapat disimpulkan bahwa :
Ø  Titik beku larutan tergantung pada sifat koligatif
Ø  Harga kb pelarut (asam anhidrat) : 0,0055128 gr oC/ mol
Ø  Bm zat x secara praktek = 102,0888 gr/mol
%kesalahan =19,07 %
Ø  Titik beku larutan lebih rendah dari pelarut murni


                                         

Laporan Titik Beku

Posted by Unknown

Spektrofotometri Serapan Atom

I.            TUJUAN PERCOBAAN                                          
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
1.      Menggunakan alat spektrofotometri serapan atom.
2.      Menganalisis cuplikan secara spektrofotometri serapan atom.

II.            ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Alat yang digunakan :
a.       Peralatan GBC AAS 932 plus
b.      Lampu katoda rongga Fe
c.       Labu takar 100ml, 50ml
d.      Gelas piala
e.       Kaca arloji
f.       Corong gelas
g.      Batang pengaduk
h.      Pipet ukur 1ml
i.        Pipet tetes
j.        Botol semprot
Bahan yang digunakan :
a.       Larutan standar Fe
b.      Aquadest
c.       Sampel

III.            DASAR TEORI

Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan absorbsi radiasi oleh atom bebas. Spektrofotometer serapan atom (AAS) merupakan teknik analisis kuantitafif dari unsur-unsur yang pemakainnya sangat luas di berbagai bidang karena prosedurnya selektif, spesifik, biaya analisisnya  relatif murah, sensitivitasnya tinggi (ppm-ppb), dapat dengan mudah membuat matriks yang sesuai dengan standar, waktu analisis sangat cepat dan mudah dilakukan. AAS pada umumnya digunakan untuk analisa unsur, spektrofotometer absorpsi atom juga dikenal sistem single beam dan double beam layaknya Spektrofotometer UV-VIS. Sebelumnya dikenal fotometer nyala yang hanya dapat menganalisis unsur yang dapat memancarkan sinar terutama unsur golongan IA dan IIA. Umumnya lampu yang digunakan adalah lampu katoda cekung yang mana penggunaanya hanya untuk analisis satu unsur saja.
Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Metode serapan atom hanya tergantung pada perbandingan dan tidak bergantung pada temperatur. Setiap alat AAS terdiri atas tiga komponen yaitu unit teratomisasi, sumber radiasi,  sistem pengukur fotometerik. 
Teknik AAS menjadi alat yang canggih dalam analisis. Ini disebabkan karena sebelum pengukuran tidak selalu memerlukan pemisahan unsur yang ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsur dengan kehadiran unsur lain dapat dilakukan, asalkan katoda berongga yang diperlukan tersedia. AAS dapat digunakan untuk mengukur logam sebanyak 61 logam.
Sumber cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi sampel yang telah teratomisasi, kemudia radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui monokromator. Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari sumber radiasi, dan radiasi yang berasal dari nyala api. Detektor akan menolak arah searah arus (DC) dari emisi nyala dan hanya mengukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel.
Atom dari suatu unsur pada keadaan dasar akan dikenai radiasi maka atom tersebut akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi yang lebih tinggi atau tereksitasi. Jika suatu atom diberi energi, maka energi tersebut akan mempercepat gerakan elektron sehingga elektron tersebut akan tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi dan dapat kembali ke keadaan semula.
Atom-atom dari sampel akan menyerap sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Penyerapan energi oleh atom terjadi pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom tersebut.


Bagian-Bagian pada AAS

a. Lampu Katoda
Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda memiliki masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji, seperti lampu katoda Cu, hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. Lampu katoda terbagi menjadi dua macam, yaitu :
·         Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur
·         Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa logam sekaligus, hanya saja harganya lebih mahal.
Soket pada bagian lampu katoda yang hitam, yang lebih menonjol digunakan untuk memudahkan pemasangan lampu katoda pada saat lampu dimasukkan ke dalam soket pada AAS. Bagian yang hitam ini merupakan bagian yang paling menonjol dari ke-empat besi lainnya.
Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang akan diuji, akan mudah tereksitasi. Selotip ditambahkan, agar tidak ada ruang kosong untuk keluar masuknya gas dari luar dan keluarnya gas dari dalam, karena bila ada gas yang keluar dari dalam dapat menyebabkan keracunan pada lingkungan sekitar.
Cara pemeliharaan lampu katoda ialah bila setelah selesai digunakan, maka lampu dilepas dari soket pada main unit AAS, dan lampu diletakkan pada tempat busanya di dalam kotaknya lagi, dan dus penyimpanan ditutup kembali. Sebaiknya setelah selesai penggunaan, lamanya waktu pemakaian dicatat.

b. Tabung Gas
Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20000K, dan ada juga tabung gas yang berisi gas N2O yang lebih panas dari gas asetilen, dengan kisaran suhu ± 30000K. regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan, dan gas yang berada di dalam tabung. Spedometer pada bagian kanan regulator. Merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam tabung.
Pengujian untuk pendeteksian bocor atau tidaknya tabung gas tersebut, yaitu dengan mendekatkan telinga ke dekat regulator gas dan diberi sedikit air, untuk pengecekkan. Bila terdengar suara atau udara, maka menendakan bahwa tabung gas bocor, dan ada gas yang keluar. Hal lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan sedikit air sabun pada bagian atas regulator dan dilihat apakah ada gelembung udara yang terbentuk. Bila ada, maka tabung gas tersebut positif bocor.
Sebaiknya pengecekkan kebocoran, jangan menggunakan minyak, karena minyak akan dapat menyebabkan saluran gas tersumbat. Gas didalam tabung dapat keluar karena disebabkan di dalam tabung pada bagian dasar tabung berisi aseton yang dapat membuat gas akan mudah keluar, selain gas juga memiliki tekanan.

c. Ducting
Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS, tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS, diolah sedemikian rupa di dalam ducting, agar ppolusi yang dihasilkan tidak berbahaya.
Cara pemeliharaan ducting, yaitu dengan menutup bagian ducting secara horizontal, agar bagian atas dapat tertutup rapat, sehingga tidak akan ada serangga atau binatang lainnya yang dapat masuk ke dalam ducting. Karena bila ada serangga atau binatang lainnya yang masuk ke dalam ducting , maka dapat menyebabkan ducting tersumbat.
Penggunaan ducting yaitu, menekan bagian kecil pada ducting kearah miring, karena bila lurus secara horizontal, menandakan ducting tertutup. Ducting berfungsi untuk menghisap hasil pembakara yang terjadi pada AAS, dan mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dengan ducting.
d. Kompresor
Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat iniberfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS, pada waktu pembakaran atom. Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan, dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan tombol ON-OFF, spedo pada bagian tengah merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan, atau berfungsi sebagai pengatur tekanan, sedangkan tombol yang kanan merupakantombol pengaturan untuk mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan disemprotkan ke burner.
Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS. Alat ini berfungsi untuk menyaring udara dari luar, agar bersih.posisi ke kanan, merupakan posisi terbuka, dan posisi ke kiri meerupakan posisi tertutup. Uap air yang dikeluarkan, akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi basah, oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian ini, sebaiknya ditampung dengan lap, agar lantai tidak menjadi basah., dan uap air akan terserap ke lap.
e. Burner
Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen, dan aquabides, agar tercampur merata, dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. Lobang yang berada pada burner, merupakan lobang pemantik api, dimana pada lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api.
Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan, selang aspirator dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama ±15 menit, hal ini merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai pemakaian. Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sampel dan standar yang akan diuji. Selang aspirator berada pada bagian selang yang berwarna oranye di bagian kanan burner. Sedangkan selang yang kiri, merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen. Logam yang akan diuji merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan asam nitrat pekat. Logam yang berada di dalam larutan, akan mengalami eksitasi dari energi rendah ke energi tinggi. Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-beda. Warna api yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada tingkat konsentrasi logam yang diukur. Bila warna api merah, maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. Dan warna api paling biru, merupakan warna api yang paling baik, dan paling panas, dengan konsentrasi.


f. Buangan pada AAS
Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen dan diletakkan terpisah pada AAS. Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian rupa, agar sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas, karena bila hal ini terjadi dapat mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat pengukuran sampel, sehingga kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk.
Tempat wadah buangan (drigen) ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi dengan lampu indicator. Bila lampu indicator menyala, menandakan bahwa alat AAS atau api pada proses pengatomisasian menyala, dan sedang berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api. Selain itu, papan tersebut juga berfungsi agar tempat atau wadah buangan tidak tersenggol kaki. Bila buangan sudah penuh, isi di dalam wadah jangan dibuat kosong, tetapi disisakan sedikit, agar tidak kering.

Keuntungan metode AAS
Keuntungan metode AAS dibandingkan dengan spektrofotometer biasa yaitu spesifik, batas deteksi yang rendah dari larutan yang sama bisa mengukur unsur-unsur yang berlainan, pengukurannya langsung terhadap contoh, output dapat langsung dibaca, cukup ekonomis, dapat diaplikasikan pada banyak jenis unsur, batas kadar penentuan luas (dari ppm sampai %). Sedangkan kelemahannya yaitu pengaruh kimia dimana AAS tidak mampu menguraikan zat menjadi atom misalnya pengaruh fosfat terhadap Ca, pengaruh ionisasi yaitu bila atom tereksitasi (tidak hanya disosiasi) sehingga menimbulkan emisi pada panjang gelombang yang sama, serta pengaruh matriks misalnya pelarut.


IV.       PROSEDUR KERJA
SOP GBC AAS PLUS
A.      Setting gas supply
1.      Mengatur gas Acytelene pada range 8-14 psi
2.      Mengatur Compress Air (Udara Tekan) pada range 45-60 psi
3.      Mengatur gas N2O pada range 45-60 psi (dengan menghubungkan kabel diregulator ke sumber PLN)
4.      Menyalakan blower (exhause)
B.      Setting Instrumen
1.      Menghidupkan computer
2.      Nemilih icon GBC versi 1.33, klik dua kali. Tunggu hingga selesai.
3.      Klik metode, lalu mengatur dengan ketentuang :
§  Description (mengatur unsur yang akan diamati, memasukkan nama unsur atau mengklik tabel sistem perioda)
§  Instrument (memasukkan arus lampu dan panjang gelombang maksimum, sesuai tabel didalam kotak lampu)
§  Measurement (memilih integration, memasukkan waktu pembacaan dan jumlah replica yang akan digunakan)
§  Calibrasi (memilih linier least square though zero)
§  Standard (menambah atau mengurangi row sesuai jumlah standar yang digunakan)
§  Quality (membiarkan seperti apa adanya)
§  Flame (memilih tipe nyala api pembakaran, memilih Air-Acetylen)
4.      Klik sampel
·         Menambah atau mengurangi row untuk sampel yang digunakan.
5.      Klik analisis (menghubungkan dengan file, membiarkan seperti apa adanya)
6.      Klik result (menampilkan layar untuk pengamatan hasil)
C.      Persiapan Sampel
Menyiapkan sampel, mengencerkan bila perlu.
D.     Pengukuran Sampel
1.      Menekan Air-Acetylen diikuti IGNITION (penyalaan)
2.      Klik START pada aplikasi window, menunggu sampai terbaca instrument ready di bagian bawah layar.
3.      Klik zero pada window, menunggu instrument ready muncul.
4.      Computer akan meminta cal blank (mengaspirasi larutan pengencer (aquadest yang digunakan)), klik OK, Progam akan mengukur blanko.
5.      Setelah blanko selesai, program akan meninta standar 1, mengaspirasikan larutan standar 1, klik OK. Melakukan pengulangan untuk seluruh larutan standar.
6.      Setelah semua larutan standar, program akan meminta sampel, mengaspirasikan sampel secara berurutan.



7 Des 2012
 Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah saya masih diberikan nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan oleh Allah SWT, karena berkat nikmat-Nya saya dapat berjumpa lagi dengan rekan2 sekalian.


Shalawat dan salam selalu kita kirimkan kepada junjungkan kita Nabi Muhammad SAW, karena berkat beliau kita dapat keluar dari zaman yang penuh dengan kegelapan.

Pada post ini, saya akan melanjutkan ttg "Sterilisasi dan Fermentasi Biokimia"

Silahkan rekan2 mengunduh DISINI

Terima kasih untuk rekan2 yang tlah berkunjung k blog saya,

Semoga post saya kali ini dapat membantu rekan2 smua ny .

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Assalamualaikum Wr. Wb.




Alhamdulillah saya masih diberikan nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan oleh Allah SWT, karena berkat nikmat-Nya saya dapat berjumpa lagi dengan rekan2 sekalian.


Shalawat dan salam selalu kita kirimkan kepada junjungkan kita Nabi Muhammad SAW, karena berkat beliau kita dapat keluar dari zaman yang penuh dengan kegelapan.


Apa kabar rekan2 semua ny ?

Semoga rekan2 sekalian selalu dalam keadaan yg sehat, dan dinaungi oleh Allah SWT.

Sudah lama saya tidak update, kali ini saya akan share ttg "Kinetika Fermentasi"

Silahkan rekan2 ambil DISINI

Terima kasih untuk rekan2 yang tlah berkunjung k blog saya,

Semoga post saya kali ini dapat membantu rekan2 smua ny .

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Kinetika Fermentasi

Posted by Unknown
20 Okt 2012
Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah saya masih diberikan nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan oleh Allah SWT, karena berkat nikmat-Nya saya dapat berjumpa lagi dengan rekan2 sekalian.


Shalawat dan salam selalu kita kirimkan kepada junjungkan kita Nabi Muhammad SAW, karena berkat beliau kita dapat keluar dari zaman yang penuh dengan kegelapan.


Apa kabar rekan2 semua ny ?

Semoga rekan2 sekalian selalu dalam keadaan yg sehat, dan dinaungi oleh Allah SWT.
Pada post kali ini saya akan berbagi file presentasi ttg "Sterilisasi dan Fermantasi Biokimia" bagian 1

Silahkan rekan2 download lewat SINI


Terima kasih untuk rekan2 yang tlah berkunjung k blog saya,

Semoga post saya kali ini dapat membantu rekan2 smua ny .


Wassalamualaikum Wr. Wb.
12 Okt 2012
Assalamualaikum Wr. Wb.


Alhamdulillah saya masih diberikan nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan oleh Allah SWT, karena berkat nikmat-Nya saya dapat berjumpa lagi dengan rekan2 sekalian.


Shalawat dan salam selalu kita kirimkan kepada junjungkan kita Nabi Muhammad SAW, karena berkat beliau kita dapat keluar dari zaman yang penuh dengan kegelapan.


Apa kabar rekan2 semua ny ?

Semoga rekan2 sekalian selalu dalam keadaan yg sehat, dan dinaungi oleh Allah SWT.
Pada post kali ini saya akan membagikan file presentasi (ppt) mengenai "Isolasi Seleksi dan Identifikasi"

Silahkan download lewat SINI


Terima kasih untuk rekan2 yang tlah berkunjung k blog saya,

Semoga post saya kali ini dapat membantu rekan2 smua ny .


Wassalamualaikum Wr. Wb.


KC'12

KC'12

Blogroll

Total Tayangan Halaman

Islamic Calender

<a href=http://www.tutorialblogspot.com/></a>
Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Pages

Blogger templates

Popular Posts

Copyright © I'm an Engineer -Black Rock Shooter- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan